Tuesday, July 11, 2017

KINERJA BULOG DIPERTANYAKAN, KABULOG BONDOWOSO ANGKAT BICARA


BONDOWOSO – ijenpost.net – Maraknya beras sejahtera (Rastra) tidak layak konsumsi dan penolakan rastra oleh masyarakat akhir-akhir ini menandakan rendahnya kinerja Perum Bulog dalam mengemban tugas yang diamanatkan pemerintah. Penolakan beras untuk warga miskin (rastra) oleh masyarakat tidak hanya terjadi di Bondowoso, tapi terjadi di banyak kabupaten lain.

Jeleknya kualias rastra yang diterima masyarakat menjadi cerita berseri yang terjadi setiap tahun. Beras apek, warnanya kuning, banyak butir patah, beratnya tidak sesuai dan berkutu akrab terdengar ketika pembagian rastra ke masyarakat.

Mendengar keluhan dan aspirasi masyarakat, Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso H. Ahmad Dafir menilai, pengawasan pemerintah memang patut dipertanyakan. Karena, itulah yang membuat buruknya kualitas Rastra yang didistribusikan ke masyarakat.

Ia meminta pihak terkait segera memperbaiki persoalan ini. Agar masyarakat miskin tidak jadi korban.

“Saya sudah sampaikan ke semua kades atau panitia koordinator penerima Rastra di desa untuk menolak, manakala beras yang diterimanya bukan beras medium,” Ungkapnya. Seperti dilansir di beberapa media, rabu 21 Juni 2017.

Masih dari sumber yang sama, menurutnya setelah di kroscek pendistribusian yang Desa Pancoran ternyata tanda terima pengiriman sudah di tandatangani oleh panitia desa. Kendati demikian dia juga menyampaikan sudah berkali-kali bahwa Rastra bukan beras seharga Rp.1600.

“Harga beras medium sekitar Rp. 8.000,- lebih, dan Pemerintah mensubsidi untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sehingga rakyat yang masih kurang sejahtera hanya membayar Rp.1.600,” Katanya tegas.

Sebagai informasi, Inpres Nomor 5 Tahun 2015 jelas tersurat dan tersirat tentang kualitas beras untuk masyarakat berpenghasilan rendah adalah yaitu kadar air (KA) maksimum 14 persen, butir patah maksimum 20 persen, kadar menir maksimum 2 persen, dan derajat sosoh minimal 95 persen.

Sehingga beras hasil penyerapan Bulog sesuai persyaratan tersebut dapat dipastikan bahwa penurunan kualitas dapat diminimalisasi. Dengan memenuhi persyaratan tersebut maka umur simpan dan kualitas beras dapat bertahan lebih lama.

Sesuai dengan data LKPJ Bupati 2016, Pemerintah Kabupaten Bondowoso telah mendistribusikan sebanyak 1.516.854 kg beras setiap bulannya kepada 101,123 Rumah Tangga Sasaran (RTS) dengan ketentuan 15 Kg beras selama 12 bulan dengan harga tebus Rp. 1.600/kg di titik distribusi.

Adanya beras yang berbau apek, bahkan berkutu patut diduga adanya ketidakakuratan dalam proses pengadaan atau penyerapan beras, dan dicurigai banyak beras yang tidak memenuhi syarat (TMS). Padahal ketika proses pengadaan beras, Bulog sudah melakukan uji kualitas terhadap beras atau gabah yang akan dibeli dari mitra atau Satgas yang telah di tunjuk.

Beberapa kasus rendahnya rastra yang dipublikasikan media, tidak salah jika masyarakat luas menilai, kasus rastra berkualitas rendah di Bondowoso, menunjukan rendahnya kinerja Perum Bulog dalam mengemban amanah yang dibebankan pemerintah. Bahkan, di Bondowoso rendahnya kualitas rastra kini sudah sempat dilaporkan kepada pihak berwajib diduga masuk dalam kasus tindak pidana korupsi.

Disisi lain  ketiadaan teknologi khusus yang diterapkan di Gudang Bulog Bondowoso tersebut. Sehingga stok beras yang disimpan paling lama hanya 3-6 bulan, lebih lama dari itu bisa mengurangi kualitas beras. Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diterapkan Bulog Bondowoso dalam penyimpanan beras baru sebatas Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT), ini untuk mengurangi resiko kerusakan beras akibat hama, serangga dan mikro organisme lainnya, tetapi jika penyimpanan sudah melebihi 6 bulan, sangat dimungkinkan adanya penurunan kualitas beras.

Mendapatkan sorotan yang tajam dari berbagai kalangan masyarakat, Bulog Sub-Divisi Regional Bondowoso melakukan klarifikasi secara khusus kepada Media Online Ijen Post, dalam wawancara ekseklusif dengan tajuk LIPUTAN KHUSUS : BULOG SUB-DIVISI REGIONAL BONDOWOSO KLARIFIKASI RASTRA TAK LAYAK KONSUMSI, yang dipublikasikan pada selasa 11 juli 2017.

Dalam wawancara ekseklusif tersebut, Kepala Bulog Sub-Divisi Regional Bondowoso, Adhekan didampingi oleh Humas Bulog Bondowoso, Harisun, menjelaskan, “Kerusakan beras Rastra bukan merupakan Human Error (kesalahan manusia) di Bulog, tetapi salah satu faktor utamanya adalah penyimpanan yang terlalu lama, atau sekitar 16 bulan dari pengadaan 2016 dan baru di distribusikan kepada RTM penerima Rastra pada bulan April 2017. Sehingga beras mengalami penurunan kualitas. Bulog tetap menjaga komitmen, melayani masyarakat yang tidak mampu, jadi dari kami tidak ada niatan untuk mengkhianati amanah yang diemban, tetapi murni karena faktor penyimpanan yang terlalu lama. Untuk lebih jelasnya dapat di baca pada link berita http://www.ijenpost.net/2017/07/liputan-khusus-bulog-sub-divisi.htm. (Amir Hasan - Fahkrul Hidayah)

Cak War

Asosiasi Media Online Indonesia

Asosiasi Media Online Indonesia

Mitra Ijen Post

Logo Ijen Post

INFO HARGA SEMBAKO JAWA TIMUR

http://picasion.com/