Thursday, July 27, 2017

Opini : PENEGAKAN HUKUM DI BONDOWOSO


Menitikkan air mata ketika saya menyaksikan, seorang perempuan setengah baya, Holizah, warga Desa Grujugan Lor Rt.03, Rw.01, Kecamatan Grujugan Bondowoso Jawa Timur duduk di depan pengadilan dengan wajah "awam hukum" dan tatapan kosongnya. Untuk datang ke sidang putusan kasusnya, hanya masalah pencemaran nama baik, akibat cek cok tuduhan pencurian uang Rp. 20.000,-. 

Seorang Holizah, yang berstatus sebagai buruh dan suami penarik becak yang mangkal di Perum Tamansari Indah, bisa menghadiri persidangannya walaupun tidak mengetahui dengan jelas perkara yang dituduhkan kepadanya, juga penandatanganan berkas-berkas perkara yang tidak tahu apa isinya. Holizah yang “buta hukum” juga tanpa didampingi Penasehat Hukum, karena tidak memiliki cukup uang untuk membayar seorang penasehat hukum.

Disisi lain, seorang pejabat yang dilaporkan terkena kasus hukum mungkin banyak yang mangkir dari panggilan pengadilan dengan alasan sakit yang kadang dibuat-buat. Tidak malukah mereka dengan Holizah?. Pantaskah Holizah dihukum hanya karena uang Rp. 20.000,-?. Dimana prinsip kemanusiaan itu?. Adilkah ini bagi Holizah yang buta hukum dan miskin?.

Bagaimana dengan koruptor kelas kakap?. Inilah sebenarnya yang menjadi ketidakadilan hukum yang terjadi di Indonesia. Begitu sulitnya menjerat mereka dengan tuntutan hukum. Apakah karena mereka punya kekuasaan, punya kekuatan, dan punya banyak uang?, sehingga bisa mengalahkan hukum dan hukum tidak berlaku bagi mereka para koruptor. Saya sangat prihatin dengan keadaan ini.

Sangat mudah menjerat hukum terhadap Holizah, gampang sekali menghukum si miskin hanya gara-gara permasalahan uang Rp. 20.000,-, begitu mudahnya menjerat hukum masalah kecil bagi si miskin. Namun demikian sangat sulit dan sangat berbelit-belit begitu akan menjerat para koruptor dan pejabat yang tersandung masalah hukum di negeri ini. Ini sangat diskriminatif dan memalukan sistem hukum dan keadilan di Indonesia. Apa bedanya seorang koruptor dengan mereka-mereka itu?. Toh mereka juga sama-sama manusia yang hidup dalam satu negara hukum yang sama.

Berikut adalah data perkara penegakan hukum Holizah :

Bahwa ia terdakwa Holizah binti Surahmu, pada hari Jumat tanggal 23 Maret 2017 sekitar jam. 08.00 WIB atau setidak-tidaknya pada suatu hari pada bulan Maret Tahun 2017 atau setidak-tidaknya pada Tahun 2017 bertempat di Desa Grujugan Lor Rt.03, Rw.01, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso atau setidak-tidaknya ditempat tertentu yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Bondowoso, dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seorang, dengan menuduh sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum. Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan cara sebagai berikut :

Pada waktu dan tempat sebagaimana tersebut diatas saat terdakwa Holizah binti Surahmo sedang berada di kamar mandi melihat saksi Ribut mengambil uang milik terdakwa sebesar Rp.20.000,- (dua puluh ribu rupiah) yang ditaruh diatas meja ruang keluarga, dimana saksi Ribut masuk kerumah terdakwa dengan cara memanggil terdakwa...  Dik, mandih been (dik mandi kamu)  dan terdakwa Holizah binti Surahmu menjawab...  enjek tak mandih (tidak, saya tidak mandi)... kemudian dijawab oleh saksi Ribut... Oyelah pamareh mon mandih (Oya dah selesaikan dulu kalau mandi)... dan saat itu terdakwa tidak enak atas kehadiran saksi Ribut dan terdakwa Holizah binti Surahmu langsung melihat uang yang diletakkan di meja ruang tamu sebesar Rp.240.000,- dengan rincian uang pecahan Rp.100.000,- sebanyak 2 lembar, uang pecahan Rp.10.000,- sebanyak 1 lembar, dan uang pecahan Rp. 5000,- sebanyak 6 lembar.

Bahwa kemudian setelah terdakwa Holizah binti Surahmu berdiri melihat saksi Ribut di ruang tamu mengambil uang milik terdakwa Holizah binti Surahmu sebanyak Rp. 20.000,- pecahan uang Rp.5.000,- dimasukkan kedalam saku bajunya setelah mengambil uang milik terdakwa Holizah binti Surahmu tersebut saksi Ribut keluar rumah menuju arah selatan rumah saksi Ribut sendiri yang berdampingan dengan rumah terdakwa Holizah binti Surahmu. Kemudian terdakwa Holizah binti Surahmu meneliti uang miliknya yang ada di atas meja ternyata uang tersebut telah berkurang dari Rp.240.000,- menjadi Rp.220.000,- , setelah melihat uang terdakwa Holizah binti Surahmu berkurang lalu keluar rumah menanyakan kepada suami terdakwa bernama Wasis,  ... Dek emmah Mbu Ribut (kemana bu Ribut) dan dijawab oleh Wasis ... Mole (pulang), kemudian terdakwa Holizah binti Surahmu memberitahukan kepada Wasis dengan mengatakan... ngalak tang pesse roah dupolo tang pesse kareh duratus dupolo... (ambil uang saya itu dua puluh ribu rupiah dan uang saya sisa dua ratus dua puluh ribu rupiah), kemudian terdakwa Holizah binti Surahmu mengejar dan mendatangi rumah saksi Ribut, selanjutnya terdakwa Holizah Binti Surahmu mengatakan kepada saksi Ribut... Bek en ngalak sang pesse Bek en masok ka roma engkok, bek en ngalak sang pesse dupolo ebuh (kamu ngambil uang saya kamu masuk rumah dan ambil uang saya dua puluh ribu) dan kemudian terdakwa panggil ... deknak ennak yu (kesini  kesini yu) kemudian saksi Ribut datang dan terdakwa Holizah binti Surahmu sampaikan bahwa... Bek en ternyata masok ka roma ngalak tang pesse dan dijawab oleh saksi Ribut .. be...dik kan kok nyera otang  (kamu ternyata masuk ke rumah ambil uang saya) dan dijawab... (tidak saya kan bayar hutang)  dan terdakwa tetap mengatakan... Enjek bek en ngalak tang pesse engkok nangaleh dibik, e delem sak en bek en (tidak, kamu ambil uang saya, saya kelihatan sendiri, didalam kantongmu)... kemudian oleh saksi Ribut uang diambil dari saku bajunya dan ditunjukkan kepada terdakwa Holizah binti Surahmu dan terdakwa Holizah binti Surahmu mengambil uang tersebut.

Akibat perbuatan terdakwa tersebut nama baik saksi korban Ribut tercemar dan saksi korban merasa malu karena terdakwa Holizah Binti Surahmu mengatakan hal tersebut dihadapan para tetangganya sehingga hal tersebut diketahui oleh umum, akhirnya saksi korban melaporkan ke Polsek Tamanan.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 310 ayat (1)   KUHP
Menuntut :
  1. Menyatakan terdakwa HOLIZAH Binti SURAHMU, bersalah melakukan tindak pidana”Pencemaran”sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 310 Ayat(1) KUHP dalam surat dakwaan kami.
  2. Menjatuhkan pidana terhadap HOLIZAH Binti SURAHMU, dengan pidana penjara selama 5 (lima) bulan, Masa percobaan 10 (sepuluh) bulan.
Menetapkan supaya terdakwa dibebani biaya perkara sebesar Rp.5.000,-(lima ribu rupiah).

Nomor Perkara : 92/Pid.B/2017/PN Bdw

Cak War

Asosiasi Media Online Indonesia

Asosiasi Media Online Indonesia

Mitra Ijen Post

Logo Ijen Post

INFO HARGA SEMBAKO JAWA TIMUR

http://picasion.com/