Thursday, March 8, 2018

OPINI: Berharap “Wajah” Baru Pasar Induk Bondowoso


Salah satu definisi manusia adalah makhluk ekonomi “Homo Economicus” yang cenderung tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperolehnya dan selalu berusaha secara terus menerus dalam memenuhi kebutuhannya.


Salah satu pemenuhan kebutuhan adalah dengan transaksi. Salah satu tempat yang paling sering dijadikan tempat untuk bertransaksi antara penjual dan pembeli adalah pasar, baik pasar tradisional maupun pasar modern. 


Di Kabupaten Bondowoso, ada satu pasar tradisional yang terletak di pusat kota, yaitu Pasar Induk Bondowoso. Semua masyarakat tahu, terlebih bagi masyarakat sering beraktivitas transaksi jual beli di pasar.


Pasca terbakarnya Pasar Induk Bondowoso tahun 12 September 2014 lalu, pembangunan pasar darurat di tempatkan di tengah jalan Teuku umar dan sepanjang KH. Wahid Hasyim yang tak luput dari pro dan kontra dikalangan pedagang dan masyarakat pengguna jalan yang terganggu. Hal ini dilakukan oleh Kadis Koperindag, Harimas, Msi., Saat itu dengan alasan tempat alternatif relokasi di terminal bongkar muat terminal terlalu jauh. Untuk itu dia meminta semua kalangan memaklumi pembangunan pasar sementara karena situasi darurat.


Pembangunan pasar darurat di tengah Jl. Tengku Umar sepanjang KH. Wahid Hasyim tersebut benar-benar mendatangkan masalah baru, dalam pelaksanaannya pasar pasar darurat tersebut memiliki banyak permasalahan didalamnya, seperti tidak teraturnya pedagang dalam berjualan, wilayahnya yang kumuh, tempatnya yang tidak memadai dan belum arus lalu lintas yang sering macet terjadi saat aktivitas pasar mulai dini hari hingga sore hari. Permasalahan-permasalahan ini tentunya menimbulkan keresahan bagi pedagang dan pembeli yang sehari-hari bertransaksi di pasar darurat tersebut, juga para pengguna jalan yang sering kali terjebak macet karena carut marutnya lalu lintas.


Untungnya Pemerintah Kabupaten Bondowoso peka dengan keadaan masyarakatnya sekarang, Pembangunan Pasar Induk Bondowoso yang bersumber dana dari dana sharing APBN dan APBD telah di bangun dan rencananya sudah bisa ditempati akhir tahun 2017 lalu. Tetapi pembangunan pasar Induk Bondowoso mengalami “molor” dari jadwal yang sudah di sepakati antara Pemda Bondowoso bersama PT. Alam Kukuh Rahardja, yang dalam  LPSE Kabupaten  Bondowoso penandatangan kontrak pada 13-14 Maret 2017 lalu. Hal ini juga sempat memancing kemarahan berbagai elemen masyarakat dan aktivis yang meminta Pemda Bondowoso segera merampungkan proyek pembangunan Pasar Induk.


Bupati Kabupaten Bondowoso juga telah memberikan pernyataan secara tertulis, menjawab pertanyaan fraksi pada Paripurna Jawaban Bupati atas pertanyaan Fraksi-Fraksi tentang KUA-PPAS 2017 dan P-APBD pada 06 Juli 2017, menyatakan, “Pekerjaan Pembangunan Pasar Induk Bondowoso Tahap II dilaksanakan dengan melalui beberapa tahapan yang meliputi tahapan review perencanaan, dilaksanakan pada 21 Maret 2017 sampai dengan 4 Mei 2017, tahap lelang konstruksi mulai tanggal 24 Mei 2017 sampai dengan 3 Juli 2017 dan tahap pelaksanaan konstruksi dengan jangka waktu pelaksanaan 150 hari dimulai pada tanggal 3 Juli 2017 sampai dengan 29 November 2017. Dengan tahapan tersebut diharapkan akhir tahun 2017 Pasar induk Bondowoso telah bisa ditempati”.


Banyak pihak yang menyambut baik pernyataan Bupati tersebut, pembangunan Pasar Induk ini, diharapkan selesainya pembangunan Pasar Induk ini menjadi solusi yang sangat baik atas permasalahan yang ada selama ini, Bondowoso memerlukan pasar tradisional namun modern. Dan dengan adanya pasar ini diharapkan menjadi perangsang geliat ekomomi makro maupun mikro yang ada di Kabupaten Bondowoso.

Walau masih terkendala molornya pembangunan dari schedule yang di sepakati, tetapi Plt. Sekda Kabupaten Bondowoso, Drs. Karna Suswandi, MM, memastikan ratusan pedagang yang hampir lima tahun berjualan di tempat penampungan sementara di Jalan KH. Wahid Hasyim dan Jalan Teuku Umar akan pindah ke Pasar Induk mulai 19 April 2018.


Ketika pasar ini digunakan nantinya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh Pemda Bondowoso atau dinas terkait; Pertama Pemda harus memberikan kios-kios yang ada kepada pedagang-pedagang kecil dengan modal terbatas dan mengutamakan pedangang asli Kabupaten Bondowoso, jangan sampai nantinya pembagian kios ini justru dilakukan dengan tidak adil kepada pedagang kecil. Kedua, Pemda atau dinas terkait harus melakukan monitoring terus menerus terhadap kondisi dan keadaan pasar, jangan sampai timbul permasalahan-permasalahan lama yang dibawa oleh pedagang, penjual atau pihak lain seperti pada kondisi pasar sekarang.


Dari pihak pedagang harus menjaga dengan baik fasilitas yang telah diberikan oleh pemerintah dan dapat melaksanakan kewajiban kepada pemerintah seperti membayar sewa kios, membayar retribusi dan menjaga kebersihan pasar dan yang pasti menjaga kenyaman pengunjung pasar.


Penulis berpendapat jika pemerintah, pedagang, pembeli dapat bersinergi melaksanakan tugas dan perannya masing-masing dengan baik maka pasar yang baru ini akan menumbuhkan tingkat perekonomian masyarakat Kabupaten Bondowoso dan Induk akan jadi icon baru Kabupaten Bondowoso seperti yang diharapkan banyak masyarakat sekarang ini.


Pada akhirnya penulis berharap, pembangunan Pasar Induk ini dapat menjadi solusi dari permasalahan Pasar Induk darurat yang ada sekarang. Diharapkan sinergi yang baik dari pemerintah, pedagang, pembeli atau masyarakat pada umumnya. Jika semua pihak bersinergi dengan baik, penulis percaya bahwa “wajah” baru Pasar Induk Bondowoso nantinya akan menjadi pusat keramaian dan dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bondowoso. (*)

Penulis : Ekho Herry N.

Cak War

Asosiasi Media Online Indonesia

Asosiasi Media Online Indonesia

Mitra Ijen Post

Logo Ijen Post

INFO HARGA SEMBAKO JAWA TIMUR

http://picasion.com/