Thursday, August 16, 2018

KELUARGA PASIEN PESERTA BPJS MERASA DIRUGIKAN, STAF RSUD KOESNADI BONDOWOSO TUDING PELAYANAN BPJS YANG MERUGIKAN PIHAK RUMAH SAKIT (Bagian I)


BONDOWOSO - ijenpost.net - Bagi masyarakat yang menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan perlu memerhatikan iuran bulannya. Bila tidak, ketika melakukan pengobatan di rumah sakit, bakal dikenakan denda yang dihitung dari 2,5 % dikalikan jumlah bulan menunggak dikalikan jumlah biaya perawatan.

Tentunya bagi keluarga kurang mampu untuk membayar biaya pengobatan rumah sakit suatu hal yang cukup berat. Apalagi kasus penyakit yang ditangani rumah sakit cukup parah atau bahkan sampai meninggal dunia.

Seperti itulah kisah keluarga pasien meninggal dunia atas nama Kholisah Gozali, keluarga almarhum wanita paruh baya ini kesulitan dalam menyelesaikan administrasi pembayaran RSUD Dr. Koesnadi Bondowoso, akibat terlambat membayar iuran BPJS. Alhasil ketika hendak keluar rumah sakit, keluarga pasien harus menyerahkan deposit biaya perawatan rumah sakit sebesar 4 juta rupiah dari total Rp. 4.400.000 total tagihan biaya perawatan rumah sakit, selain itu keluarga pasien juga dibebankan biaya ambulan Rp. 250.000,-.

Namun demikian, awalnya pihak RSUD Dr. Koesnadi memberikan penjelasan kepada keluarga pasien agar dapat menggunakan fasilitas dari BPJS, keluarga pasien disarankan agar segera melunasi iuran BPJS beserta semua denda keterlambatan, sehingga RSUD dapat memproses klaim BPJS pasien. 
Dan hari itu juga keluarga pasien membayar seluruh tunggakan premi BPJS sebesar Rp. 994.500 dan denda selama 13 bulan sebesar Rp. 860.750 yang disetor lewat kantor Pos. Tetapi setelah semua tagihan BPJS beserta denda sudah dibayar keluarga pasien, nyatanya RSUD tetap membebankan seluruh biaya perawatan kepada keluarga pasien. 
 Saat keluarga pasien meminta penjelasan dari pihak RSUD Dr. Koesnadi, salah seorang staf loket menyalahkan pelayanan BPJS yang tidak 24 jam. Staf tersebut menyatakan, “BPJS kan pelayanannya tidak 24 jam, sehingga merepotkan pihak RSUD”. Sedang saat keluarga pasien meminta penjelasan dari pihak BPJS, staf di BPJS Bondowoso menyatakan bahwa BPJS hanya menerima dan memproses pengajuan dari pihak RSUD, “BPJS hanya menerima dan memproses pengajuan dari pihak rumah sakit”, ungkap staf pelayanan BPJS Bondowoso.

Sesuai dengan ketentuan dari PBJS, untuk menertibkan peserta BPJS Kesehatan dalam membayar iuran peserta, BPJS Kesehatan akan menonaktifkan keanggotaan Peserta BPJS yang menunggak sampai peserta yang bersangkutan melunasi tunggakannya. BPJS tidak mengenakan denda bagi peserta yang menunggak kecuali jika menggunakan layanan rawat inap sebelum 45 hari setelah status keanggotaan diaktifkan kembali.

Denda akan berlaku jika peserta menggunakan layanan rawat inap, tapi kalau hanya sekedar berobat biasa masih boleh. Denda yang berlaku yaitu peserta akan dikenakan biaya 2,5 persen dari biaya pelayanan kesehatan untuk setiap bulan tertunggak maksimal 12 bulan atau Rp 30 juta. 
Dari dasar ketentuan BPJS tersebut, menurut keluarga korban, “jika memang dikenakan denda dalam pembayaran tagihan di rumah sakit, seharusnya bukan Rp. 4.400.000, tetapi hanya Rp. 1.430.000,-. Perhitungannya Rp. 4.400.000 x 2,5%x 12 bulan = Rp. 1.430.000,-“.

“Namun kita diwajibkan membayar seluruh tagihan rumah sakit, padahal sebelumnya kita sudah melunasi seluruh tagihan BPJS beserta dendanya, sehingga walaupun semua biaya tidak dibayar oleh BPJS karena adanya keterlambatan pembayaran iuran BPJS, tetapi seharusnya kita hanya membayar Rp. 1.430.000,- saja, bukan Rp. 4.400.000,-. Yang membuat aneh lagi, jika memang saya harus membayar Rp. 4.400.000,- lalu saya baru deposit Rp. 4.000.000,- berarti saya masih kurang bayar Rp. 400.000,-, namun anehnya pihak rumah sakit tidak menagih kekurangan bayar tersebut”.

“Sesuai perhitungan saya, dengan saya membayar Rp. 4.000.000,-, terdapat selisih kelebihan pembayaran saya kepada RSUD sebesar Rp. 2.570.000,-, belum lagi jika pihak RSUD mengajukan klaim ke BPJS, pihak BPJS sesuai dengan perhitungan klaim biaya perawatan akan membayar Rp. 2.970.000,-, nilai tersebut didapat dari total tagihan RSUD di kurangi denda yang harus dibayar pasien BPJS”.

 “Bisa jadi pihak rumah sakit akan menerima pembayaran double, dari saya Rp. 4.000.000,-, dan dari klaim ke pihak BPJS sebesar Rp. 2.970.000,-. Sehingga biaya yang seharusnya dibayarkan hanya sebesar Rp. 4.400.000,-, tetapi pihak rumah sakit dapat menerima total Rp. 6.970.000,-, ini pasti ada yang tidak beres,” ujar keluarga pasien dengan kesal.

“Jika hal ini juga terjadi pada pasien-pasien BPJS lainnya, kan kasihan juga”, ungkapnya. Bersambung. (Tim)

Cak War

Asosiasi Media Online Indonesia

Asosiasi Media Online Indonesia

Mitra Ijen Post

Logo Ijen Post

INFO HARGA SEMBAKO JAWA TIMUR

http://picasion.com/