Friday, August 17, 2018

KELUARGA PASIEN PESERTA BPJS MERASA DIRUGIKAN, STAF RSUD KOESNADI BONDOWOSO TUDING PELAYANAN BPJS YANG MERUGIKAN PIHAK RUMAH SAKIT (Bagian II)

BONDOWOSO - ijenpost.net - Wakil Direktur Rumah Sakir Dr. Kosnadi Bondowoso, Tasrip, menjawab keluhan pasien BPJS yang harus membayar secara mandiri, walaupun keluarga pasien sudah melunasi tunggakan premi BPJS berikut dendanya. Berikut perbincangan Cak War dengan Wakil Direktur RSUD Dr. Kosnadi Bondowoso menjawab keluhan pasien BPJS yang dikenakan biaya sebagai pasien umum.

“Bilamana tidak terbit SEP (Surat Eligibilitas Peserta) harus menjadi umum, kalau hari jumat sampai senen tidak bisa cetak SEP, karena sdh 3 x 24 jam, meninggal hari senin, pengurusan hari jumat saya di BPJS tidak dapat segera, saya yakin sampai sore. Untuk masalah deposit atau kesepakatan awal belum ada laporan ke saya. Deposit itu adalah sefatnya sementara, dan belum masuk kas rumah sakit. Jika BPJS sudah clear dan menanggung, maka deposit akan dikembalikan”, jelas Tasrip.

“Persyaratannya BPJS harus lengkap, jika sampai muncul tagihan pasien umum, berarti SEP BPJS tidak bisa dicetak, mengapa, karena sudah lebih dari 3x24 jam persyaratan BPJS tidak masuk ke RS. BPJS bisa membuka lagi (diaktifkan kembali) kewenangannya ada di BPJS, tetapi saya kira juga nggak mau, karena sudah melampaui batas lebih dari 3x24 jam, dan itu sistem”.

“Petugas pasti sudah memberikan surat pernyataan, apakah pasien peserta BPJS atau umum. Walaupun tidak memiliki BPJS atau KIS, asal dapat mengurus surat-surat kurang dari 3x24 jam, maka dia dapat dibebaskan dari biaya. Tetapi jika sudah melampaui 3x24 jam, maka sistem akan me-lock dan tidak bisa menerbitkan SEP”, lanjut Tasrip berusaha menjelaskan duduk permasalahannya.

Penjelasan dilanjutkan oleh salah satu staf RSUD Dr. Koesnadi Bondowoso. Secara runtur dia menjelaskan, “Sistemnya RSUD Koesnadi kadang nggak muncul, kadang puskesmas melanjutkan lewat sistem 36, itu langsung munculnya Rumah Sakit bhayangkara atau mitra (RS Mitra Medika. Red), padahal tujuannya mau kesini (RSUD Dr. Koesnadi Bondowoso) yaitu saya tidak tau, sistemnya agak tidak stabil”.

“Jadi seperti itu pak, mungkin dapat dikoreksi. Pasien masuk hari jumat dengan BPJS, ternyata ketika di entrikan tidak bisa, karena ada keterlambatan. Kemudian pasien meninggal hari sabtu. Kemudian pada hari senin datanglah dengan BPJSnya, sudah bayar beserta dendanya. Yang mungkin tidak konfirmasi itu, dari raungan kesana pasien sudah meninggal, karena kalau pasien sudah meninggal, itu tidak bisa kalau sudah KRS (keluar rumah sakit) itu tidak bisa keluar SEP pada hari itu, karena tanggal tidak bisa mundur. Jika sebelum ada SEP, pasien sudah pulang atau pulang paksa lalu senin keluar SEP, BPJS tidak mengakui pasien tersebut. Intinya SEP tidak bisa terbit, dan BPJS tidak bisa membayar pasien. Jika BPJS benar-benar mau menanggung biaya, maka deposit akan di kembalikan. Kami minta maaf, jika petugas kami salah berucap, karena mungkin faktor kemanusiaan pasien dapat segera mendapatken pelayanan. Dr RS hanya minta bukti, bahwa kami dapat mengklaim ke BPJS”.

Dengan alasan terlambat mengurus surat Eligibilitas Peserta (SEP), keluarga pasien atas nama Kholisah Gozali yang meninggal dunia di ICU RSUD Dr. Koesnadi Bondowoso harus diwajibkan membayar biaya tagihan Rumah Sakit sebesar Rp 4,5 juta, walau pasien sendiri sudah terdaftar sebagai anggota BPJS.

Akibat pihak keluarga Almarhum Kholisah Gozali mengalami keterlambatan mengurus surat Eligibilitas Peserta (SEP) yang dalam aturannya harus diurus 3x24 jam, sehingga semua biaya perawatan dikategorikan oleh pihak Rumah Sakit sebagai pasien umum dengan biaya pribadi dengan total biaya sebesar Rp 4,5 juta.

Keluarga Almarhum Kholisah Gozali sudah melunasi semua tunggakan premi BPJS sebesar Rp. 997.000 beserta denda Rp. 863.230 atau total yang dibayarkan ke BPJS mencapai Rp. 1.860.230.

Seharusnya, lanjut Keluarga Almarhum Kholisah Gozali, pihak BPJS dapat memaklumi keterlambatan tersebut. “Terutama soal pengurusan surat Eligibilitas Peserta yang sebelumnya tidak kita ketahui karena tidak ada sosialisasi kepada kita. Kami menjadi peserta BPJS dengan tujuan untuk meringankan biaya perawatan Rumah Sakit, bukan malah sebaliknya, semakin memberatkan kami karena tidak mengetahui soal SEP yang wajib di urus sebelum 2x24 jam,” ucap Keluarga Almarhum Kholisah Gozali dengan kesal.

Hingga saat ini pihak keluarga Keluarga Almarhum Kholisah Gozali, masih berharap kepada BPJS dapat memaklumi keterlambatan SEP dan tetap menanggung semua beban biaya pengobatan, karena dia yakin masih banyak masyarakat lain yang tidak mengetahui aturan SEP BPJS yang harus diurus pasien sebelum 3x24 jam. (Cak War)

Cak War

Asosiasi Media Online Indonesia

Asosiasi Media Online Indonesia

Mitra Ijen Post

Logo Ijen Post

INFO HARGA SEMBAKO JAWA TIMUR

http://picasion.com/