Monday, October 22, 2018

OPINI : PILKADA BONDOWOSO 2018 “BUKTI KEKUATAN RAKYAT”

OPINIijenpost.net – Pilkada Bondowoso telah usai dilaksanakan, Rabu 27 Juni 2018 yang lalu. Dan dalam setiap kom­­petisi, pasti ada yang menang, dan ada yang kalah. Yang menang bersiap diri untuk memimpin dan me­nun­tas­­kan janji kampanyenya, semen­tara pi­hak yang kalah harus segera legowo, dan men­dukung pemerintahan yang sah. Di­si­tulah letak indahnya Demokrasi, saat ke­dewasaan semua pihak bisa tetap men­jaga perdamaian, dan situasi kondusif.

Drs. KH Salwa Arifin dan H. Irwan Bachtiar Rahmat SE, Msi. (SABAR), bisa terpilih sebagai pemenang walaupun dukungan partai minim yaitu 13 kursi DPRD dari total 45 Kursi. Kemenangan Sabar jika dilihat dari dukungan partai yang minim sepertinya mustahil, tetapi kemenangan diraih dari dukungan yang besar dari masyarakat, karena yang dibutuhkan adalah kepercayaan masyarakat yang kelak akan mereka pimpin bukan suara partai.

Masyarakat tergerak untuk turut serta aktif dalam proses pemilu. Partisipasi aktif masyarakat sangat mendukung untuk keberlangsungan demokrasi yang baik. Masyarakat sudah cerdas dan mapan, bisa menentukan pilihannya tanpa pengaruh parpol apalagi money politik. Sehingga masyarakat tahu memilih mana pemimpin yang layak untuk mereka, pemimpi yang mau mengerti akan warganya yang mampu menampung setiap aspirasi dari warganya.

Tentunya dalam kontestasi Politik ada pihak-pihak yang merasa kecewa terhadap komitmen politik yang tidak dapat dipenuhi. Sebut saja pihak yang saat ini membentuk Presidium 276 Relawan Sabar yang terbentuk dari unsur partai pendukung non parlemen dan relawan. Presidium 276 Relawan Sabar merasa kecewa terhadap Partai Pengusung pasangan Drs. KH Salwa Arifin dan H. Irwan Bachtiar Rahmat SE, Msi. (SABAR), yang terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso 2018-2023. Karena mereka menganggap sampai saat ini, kesepakatan Partai Pengusung dan Pendukung yang sudah ditandatangani bersama saat pencalonan, belum dapat direalisasikan.

Kekecewaan Presidium 276 Relawan Sabar, harus dilihat secara terpisah antara realitas politik kepada Bupati/Wakil Bupati terpilih dengan Partai Politik Pengusungnya. Realitas tentang komitmen politik yang selama ini masih sulit untuk dilaksanakan oleh partai politik dan para pelaku politik masih menjadi rahasia umum.

Artinya Kepada Partai Pendukung dan Relawan jangan terlalu berharap kepada Bupati dan Wakil Bupati yang sudah diantarkan pada kursi kepemimpinannya. Realita politik, tidak terlepas dari banyaknya kepentingan yang ada di Partai Pengusung. Jika Politik itu bicara, tidak ada makan siang yang gratis, selalu menghitung untung rugi, kamu dapat apa aku dapat apa, kamu minta jabatan apa dan saya kebagian jabatan apa.

Kita dapat melihat minggu-minggu kemarin saja, Parpol pendukung pemerintah sudah tidak solid mendukung Visi Misi pemerintah terutama janji politik kenaikan honor guru ngaji, dengan alasan anggaran tidak cukup, tidak diajukan dan alasan lainnya. Hanya beberapa saja yang tetap setia mendukung relawan memperjuangkan kenaikan honor guru ngaji.

Sehingga para relawan dan masyarakat pendukung pemerintah yang lebih pro-aktif dan konsisten melakukan tindakan, perilaku, yang sifatnya mem-back up pemerintah dan mendukung program pemerintah. Kesoliditasan relawan dan masyarakat lebih terjaga sampai sekarang.

Tetapi disaat Relawan atau masyarakat memberikan usulan kepada pemerintah, ganti Partai Pengusung dengan pro-aktif berkomentar di media, seakan Relawan “ikut campur dan ngriwuki” pemerintah. Partai Politik pengusung hanya menganggap Relawan dan Masyarakat dibutuhkan saat mencari suara saja, setelah menang hanya Partai Pengusung yang boleh bicara kepada pemerintah, tugas relawan dianggap sudah selesai, cukup menghantarkan kemenangan, setelah menang. Partai Pendukung dan Relawan minggir.... urusan Bupati/Wakil Bupati serta Partai Pengusung yang mengatur pemerintahan.

Perjuangan Relawan, simpatisan dan masyarakat pada umumnya memenangkan Sabar tidak bisa di nafikkan begitu saja. Jika kita lihat, kemenangan tipis Sabar hanya 17.000-an suara, jika tanpa Partai Pendukung, Relawan, dan masyarakat, dengan hanya mengandalkan Partai Pengusung, pasangan Sabar dapat dipastikan kalah telak.

Kemenangan Pasangan Sabar dalam kontestasi Pilkada Bondowoso, adalah “bukti kekuatan rakyat” bukan partai politik. Kekuatan rakyat jangan di nodai dengan kepentingan-kepentingan politik golongan tertentu, yang pada akhirnya dianggap ikut campur dan ngriwui pemerintah, walau kita semua sadar kemenangan Sabar sangat tipis, tetapi Partai Pendukung, Relawan, simpatisan dan masyarakatlah, penentu kemenangan Pasangan Sabar, jadi kemenangan Sabar bukan dominasi Partai Pengusung.

Kembali ke realita politik yang sulit untuk di pegang komitmennya, Partai Pendukung dan Relawan jangan terlalu larut dalam oleh janji politik sebelum kemenangan di raih. Tugas Partai Pendukung dan Relawan sudah selesai, mensukseskan KH. Salwa dan H. Irwan, duduk sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso.

Partai Pendukung, Relawan dan masyarakat harus bangga, bahwa kemenangan Sabar bukan dari besarnya dana yang dikeluarkan oleh calon, bukan dari banyaknya kursi DPRD Partai Pengusung, tetapi besarnya semangat dan kekuatan rakyat untuk menuju Bondowoso Sae jauh lebih besar dari sekedar materi sesaat.

Partai Pendukung, Relawan dan masyarakat tidak harus menanti dan menagih janji-janji politik sepihak sebagai komitmen dukungan saat masih kampanye. Tetapi, Partai Pendukung, Relawan dan masyarakat harus tetap mengawal janji politik Sabar yang berdampak langsung kepada masyarakat. Pemerintah wajib menepati janji politiknya kepada masyarakat, dan benar-benar membawa membawa perubahan menuju Bondowoso Sae.

Sistem Pilkada saat ini memiliki kelemahan, yaitu pasangan calon tergantung pada kelompok politik pengusungnya pada saat pendaftaran calon kepala daerah. Sehingga Kepala Daerah terlalu mengakomodasi tuntutan pengusungnya, termasuk dalam penempatan posisi pejabat.

Bupati dan Wakil Bupati masih terikat dengan balas budi politik Partai Pengusung, dan itu menjadi kekuatiran publik bahwa Pemerintah tidak bisa melepaskan diri dari politik balas budi partai pengusung.

Harus diakui bahwa KH. Salwa memiliki basis massa politik pendukung yang riil karena beliau adalah tokoh kiai kharismatik dan bukan pimpinan partai politik. Pendukung atau pemilihnya di Pilkada adalah massa yang diikat oleh imajinasi dan harapan akan perubahan. Bukan hanya massa partai politik pengusung saja.

Sudah waktunya Pemerintah terutama KH. Salwa Arifin mulai perlahan-lahan memainkan peran politik yang strategis, tidak terbelenggu oleh Partai Pengusung. Sebagai Bupati, kami yakin beliau bisa memainkan peran sebagai fasilitator dan mediator dari kekuatan politik yang saling bersaing. Berdiri di atas semua kelompok politik, tidak lagi mementingkan koalisi pendukungnya, kelompok dan golongan tertentu saja, tapi harus mengakomodasi semua kelompok.

Di tulis kembali oleh : ABAH SINGO

Cak War

Asosiasi Media Online Indonesia

Asosiasi Media Online Indonesia

Mitra Ijen Post

Logo Ijen Post

INFO HARGA SEMBAKO JAWA TIMUR

http://picasion.com/