Tuesday, October 9, 2018

OPINI : RELAWAN JANGAN DI ARTIKAN “RE” DAN “LAWAN”, SEBAIKNYA “RELA” TANPA “WAN

OPINI - Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata relawan sama dengan kata sukarelawan, yang artinya 'orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan)' , jadi yang dimaksud dengan relawan adalah mereka yang bekerja tanpa mengharapkan imbalan apa-apa. Nah, kalau ada relawan yang sekarang menuntut sesuatu, apakah masih di katagorikan relawan?.

Pada hakekatnya relawan adalah ; melakukan sesuatu hal dengan sukarela, mengorbankan waktu dan tenaga, aktivitas tersebut memberikan keuntungan positif bagi lingkungan atau organisasi yang dibantunya, dan tidak atas dasar motivasi atau mengharapkan imbalan apapun.

Oleh karena itu, perlu kita tanyakan kepada mereka yang sekarang menuntut sesuatu dari hasil yang mereka lakukan. Apa motivasinya ketika mereka mengaku sebagai relawan? Kalau apa yang telah mereka lakukan dan berhasil, sekarang mereka menuntut haknya apakah mereka masih bisa disebut relawan? Atau lebih tepat mereka disebut dengan 'pahabaja' atau pasukan mengharapkan balas jasa.

Dengan kata lain relawan itu berarti “rela” tanpa “lawan”, jika masih ada pamrih bahkan memaksakan kehendak itu bukannya rela. Seseorang yang awalnya mengaku relawan, lalu tujuan awalnya “rela” mulai hilang, yang muncul hanya kata “lawan”, sedang masih banyak juga para relawan yang benar-benar teguh memegang kata “rela” tanpa unsur “wan” dan menghindari menjadi “lawan”.

Sungguh aneh dan sangat-sangat aneh jika ada relawan yang mengatasnamakan relawan lainnya membentuk satu barisan presidium serta meminta sesuatu. Tidak etis jika seorang relawan memaksakan kehendak kepada seseorang yang telah didukungnya menduduki jabatan tertentu. Mereka mencoba untuk menyodorkan jasa-jasa yang telah mereka lakukan sebelumnya. Padahal, ketika mereka menjadi seorang relawan mereka sudah sadar bahwa pekerjaan mereka tidak akan memperoleh balas jasa apa-apa kecuali hanya sebuah kebanggaan telah mengantarkan orang yang diusungnya telah mencapai tujuan akhir.

Apa yang telah dilakukan oleh relawan pendukung Bupati terpilih membentuk Presidium relawan untuk memaksakan kehendak kepada Bupati yang didukungnya, merupakan sebuah tindakan yang tidak etis. Menonjolkan diri paling berjasa dan mengharapkan imbalan adalah bukan sebuah seorang relawan. Relawan kok minta balas jasa? Kami pun juga relawan, tetapi apa yang telah kami lakukan adalah benar-benar hanya ingin melihat Calon Bupati menjadi seorang Bupati terpilih. Tanpa ada tujuan lainnya. Relawan adalah relawan, yang bekerja tanpa meninggalkan nama, yang bekerja tanpa meninggalkan budi apalagi mengharapkan balas jasa.

Kita seharusnya tidak lagi merecoki Bupati terpilih dengan segala tetek bengek tuntutan kita, biarlah Bupati dapat bekerja dengan tenang menyusun Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang akan membantunya nanti. Kita tidak perlu merasa sebagai seorang pahlawan yang menyodorkan nama-nama kepada Bupati untuk dipilih sebagai Kepala OPD atau Sekretaris Daerah.

Kita tidak perlu merasa sebagai orang yang terhebat, yang merasa lebih pintar dari Bupati. Apalagi memaksakan kehendak kita kepada Bupati, agar orang yang kita usulkan terpilih menjadi pembantu Bupati. Sungguh sebuah tindakan yang tidak etis dan tidak bijaksana.

Apalagi kalau apa yang kita usulkan kepada Bupati, ternyata diabaikan oleh Bupati, lalu merasa kecewa dan berbalik arah me-LAWAN Bupati. Menyalahkan Bupati tidak bisa membalas jasa mereka. Kecewa, sakit hati akhirnya menjadi duri dalam daging Bupati. Lalu mereka menganggap, apa gunanya mereka dulu membela seorang calon Bupati dan mengantarkannya menjadi Bupati terpilih?

Akhir kata, kita harus menyadari makna dari kata relawan itu sebenarnya. Jika kita menjadi relawan untuk mengharapkan balas jasa. Lebih baik jangan mengatasnamakan relawan, karena hanya akan mereduksi arti relawan itu sendiri.

Relawan mesti menyambut Bupati terpilih dengan memberi masukan yang berorientasi pada pemetaan permasalahan dan langkah-langkah konkret yang bisa dilaksanakan untuk memecahkan permasalahan. Tetapi, satu hal yang harus digaris bawahi bahwa relawan tidak boleh memaksakan kehendak dan mendiktekan keinginannya Bupati terpilih.

Maka dari itu, relawan mesti tahu batas, karena rakyat sudah memberikan amanah sepenuhnya kepada Bupati terpilih. Kebijkan-kebijakan strategis terkait dengan program prioritas dan penyusunan OPD merupakan hak prerogratif Bupati, karenanya relawan tidak perlu memaksakan keinginannya. Relawan bisa memberikan masukan, tapi tidak boleh memboikot dan memaksa. 

Penulis : ABAH SINGO

Cak War

Asosiasi Media Online Indonesia

Asosiasi Media Online Indonesia

Mitra Ijen Post

Logo Ijen Post

INFO HARGA SEMBAKO JAWA TIMUR

http://picasion.com/