Sunday, January 20, 2019

Tiga Santri Genggong Probolinggo Sabet Medali Emas dan Perak
Pada International Science Fair di Thailand
Satu di Antaranya Asal Bondowoso

BONDOWOSO - ijenpost.net – GENGGONG – SMA Unggulan (SMAU) Haf-Sa Zainul Hasan BPPT Genggong terus menunjukkan prestasinya di kancah internasional. Kali ini SMAU dinobatkan sebagai juara 1 tingkat internasional di ajang “The Second Phatthalung International Science Fair 2019 and PCCST Internasional Science Fair” yang diikuti 26 tim dari 4 negara (Thailand, Malaysia, Vietnam dan Indonesia) pada Selasa (15/01/2019) di negara Thailand.

Lomba sains (Biologi, Kimia, Fisika, dan Matematika) yang diselenggarakan pada tanggal 14 hingga 19 Januari 2019 ini diikuti oleh tim dari beberapa Negara. Di antaranya Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Thailand sendiri sebagai tuan rumah. Ada 26 tim dari empat Negara tersebut yang berkompetisi di ajang bergensi ini.

Empat tim diantaranya dari Indonesia yang merupakan delegasi dari SMA Unggulan Haf-Sa Zainul Hasan Genggong, SMA Al-Hikmah Kota Batu, MAN 2 Kota Kediri, SMPI Cendikia Cianjur, dan SMP Lazuardi Haura GIS Lampung.

Medali emas dan gelar Excellence Award dan Karya Tulis Terbaik se Asia tersebut didapat pada saat presentasi lisan (oral presentation) di provinsi Phatthalung dan medali perak diperoleh pada saat uji tesis secara komprehensif oleh tim yang terdiri dari beberpa professor yang ahli di bidang sains di provinsi Satun.

Sebelumnya, dua tim dari sekolah yang berbasis pesantren ini mampu meraih juara 3 di ajang “Kuala Lumpur Engineering Science Fair (KLESF) di Malaysia yang diikuti 400 tim dari 5 negara (Hongkong, Thailand, Singapore, Philipina, dan Indonesia) November 2018 lalu. Pencapaian dua prestasi internasional ini diraih dalam rentang waktu yang cukup singkat yakni tiga bulan.

Ustadzah Yenny Rahma, pembina tim SMAU, saat dikonfirmasi mengaku sangat terharu atas prestasi gemilang yang dicapai anak didiknya. Bahkan dirinya tidak menyangka sebelumnya beras analog karya anak didiknya ini akan dinobatkan menjadi yang terbaik di ajang internasional ini. “Campur aduk, gak nyangka, gak henti-hentinya bersyukur pada Allah,” akunya via sambungan seluler.

Ustadzah Yenny bercerita, saat tersisa 5 tim terbaik di depan pentas dan hanya menyisakan tim Indonesia dan tim tuan rumah, ada seorang ibu dari tim Indonesia lainnya, tiba-tiba maju dan memberikan bendera merah putih pada anak didiknya. “Ini bendera, kalian sudah membawa nama Indonesia, ayo pakai,” ungkap ustadzah Yenny menirukan seorang ibu pemberi bendera.

Tanpa disangka-sangka ternyata tim SMAU yang tersisa dari tim Indonesia lainnya dinobatkan sebagai The Winner Award (excellent Award) pada ajang ini. “Pada saat panitia di Phattalung mengumumkan dari bronze medal award, kemudian silver medal award, sekolah kami tak kunjung di panggil. Kami dag dig dug. Dan sisa 5 peserta, kelima peserta ini diminta maju ke depan. Kami tak henti berdoa, sampai pada titik akhir hanya sisa 2 negara, dan panitia menyatakan kami sebagai yang terbaik,” ungkapnya panjang lebar. 
Aisyah, salah satu dari tim peneliti, menuturkan, “Alhamdulillah kami bersyukur, merinding, dan serasa tidak percaya atas apa yang kami raih di sini. Kami berharap ini bukan hanya sekadar prestasi tapi yang paling penting adalah bahwa produk yang kami rancang dalam bentuk beras analog ini mampu membantu orang-orang yang terkena penyakit diabetes dan dapat membantu mengatasi masalah kekurangan pangan seperti yang terjadi di beberapa negara di Afrika,” tutur Aisyah.

Tidak hanya itu, yang membuatnya bangga juga karena pemerintah Indonesia berjanji akan mematenkan dan memasarkan produk beras analog ini di Indonesia.

“Terima kasih untuk guru-guru, keluarga, sahabat seperjuangan, masyarakat Bondowoso atas barokah doa untuk putri-putri kami yang berkompetisi Thailand,” ungkap Imam Khalid Andi Wijaya, orang tua dari Chahyaning Aisyah.

Ia juga menambahkan bahwa prestasi ini membuktikan kepada dunia bahwa pesantren adalah tempat terbaik dan ideal untuk membentuk karakter IMTAK (Iman dan takwa) dan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi).

Tiga santri dari Zainul Hasan Genggong ini membuktikan berhasil meraih medali emas dan mengibarkan bendera merah putih di Thailand.

Menurut Andi, sapaan akrab Imam Khalid Andi Wijaya, keberadaan pesantren merupakan jawaban atas kegersangan jiwa dan kegelisahan orang tua yang semakin khawatir atas pergaulan pemuda hari ini. (*)

Cak War

Asosiasi Media Online Indonesia

Asosiasi Media Online Indonesia

Mitra Ijen Post

Logo Ijen Post

INFO HARGA SEMBAKO JAWA TIMUR

http://picasion.com/