Friday, March 8, 2019

Saatnya Jadi Pemilih Cerdas
‘Ambil uangnya jangan pilih orangnya’

OPINIijenpost.net Campur tangan 'UANG' selalu menghiasi sekaligus mencoreng esensi dari pesta demokrasi. Mulai dari yang terendah pemilihan kepala desa, pemilihan kepala daerah, pemilihan anggota DPR maupun DPRD, hingga pemilihan presiden, tidak bisa dilepaskan dari politik uang.

Meskipun masyarakat semakin cerdas dalam berpolitik, namun masih tetap ada yang tidak bisa melepaskan diri dari jeratan politik uang. Hingga akhirnya di beberapa daerah muncul kampanye bertajuk ‘Ambil uangnya jangan pilih orangnya’.

Masyarakat harus menilai bahwa permasalahan 'POLITIK UANG' perlu diperhatikan secara serius. Praktik politik uang calon legislatif (caleg) menghiasi masa-masa kampanye tahun ini. Para Caleg mendatangi masyarakat dengan sikap yang mendadak baik, mendadak perhatian, atau mendadak peduli pada masyarakat. Apapun jurus rayuan digunakan para Caleg untuk menyakinkan masyarakat agar memilihnya.

Sudah menjadi musim lima tahunan, dimana banyak Caleg yang mengobral janji saat kampaye. Oh.... ternyata janji para Caleg begitu manis. Janji demi janji diberi menjelang pesta rakyat yang dihadapi sebentar lagi. Inilah yang digaungkan oleh para penggila kekuasaan. Awalnya ingin mengatasnamakan rakyat ketika berkampanye. Namun kala mereka mendapatkan kursi panas, janji tinggallah janji. Janji manis mereka sudah mereka lupakan. Inilah realita yang terjadi pada para penggila kekuasaan.

Selama ini pemahaman masyarakat menentang politik uang sebenarnya sudah cukup baik. Prinsip 'AMBIL UANGNYA, JANGAN PILIH ORANGNYA!’ mulai banyak dijalankan. Namun di sisi lain ada kekhawatiran perubahan cara pandang masyarakat akan proses demokrasi yang berimbas pada enggannya mereka berpartisipasi aktif sebagai pemilih.

Praktik politik uang biasanya semakin massif jelang pencoblosan. Para calon legislatif nekat melakukan tindakan apapun karena dibutakan mimpi kekuasaan. Masyarakat perlu sadar agar praktik culas semacam ini tidak menjadi budaya.

Apalagi kemajuan pembangunan di suatu daerah ditentukan oleh pilihan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, jauhkan model-model transaksional seperti itu, masyarakat harus cerdas, cukup dengan 'AMBIL UANGNYA, JANGAN PILIH ORANGNYA!’. Pada dasarnya mereka yang berpolitik dengan cara transaksional, karena tidak memiliki kemampuan dan tidak layak menjadi wakil rakyat. (*)

Cak War

Asosiasi Media Online Indonesia

Asosiasi Media Online Indonesia

Mitra Ijen Post

Logo Ijen Post

INFO HARGA SEMBAKO JAWA TIMUR

http://picasion.com/