Friday, November 1, 2019

Dulu Banjir Bandang Situbondo “Kiriman” Dari Bondowoso
Sekarang Banjir Kegaduhan Bondowoso “Kiriman” Satu Orang Dari Situbondo

OPINI : Sebenarnya kalau pikirkan secara seksama maka disetiap ada bencana, akan membuat para politikus dan orang daerah bereaksi dengan membuat teori-teori untuk solusi, yang mana perkiraan solusi umumnya seperti lestarikan alam.

Untuk bencana seperti banjir, masyarakatpun dihimbau jangan mendirikan hunian di bantaran kali ataupun sungai dengan dalih-dalih rawan bencana dan mengurangi resapan air hujan. Banjir pun dapat mengkambinghitamkan daerah lain, dengan dalih banjir kiriman.

Suatu contoh wilayah Situbondo, terutama yang berada di bantaran bendung atau DAM dan sungai yang saling berhubungan, dihimbau waspada akan kemungkinan banjir bandang yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Apalagi, jika intensitas hujan dari kabupaten Bondowoso tinggi. Semua masyarakat Situbondo di sepanjang bantaran sungai Sampean Baru dihimbau untuk waspada.

Hingga kini warga Situbondo masih trauma dengan banjir bandang yang terjadi tahun 2002 lalu yang merenggut puluhan korban jiwa dan melumpuhkan fasilitas umum.

Seperti diberitakan di beberapa media nasional, luapan air sungai yang mengalir hingga ke Situbondo merupakan luapan dari Sungai Sampean yang terbentang dari Bondowoso sampai Situbondo. Sehingga curah hujan dan ketinggian air bendung atau DAM di Bondowoso menjadi patokan bagi Situbondo untuk menentukan apakah luapan air berpotensi mendatangkan banjir bandang atau tidak.

Cerita musibah banjir bandang Situbondo karena air kiriman dari Bondowoso tahun 2002 lalu, menjadi perbincangan dan candaan santai dikalangan tokoh-tokoh politik, berkaitan dengan adanya banjir kegaduhan di Bondowoso.

Tokoh politik Bondowoso menganalogikan banjir “kiriman” yang terjadi di Situbondo 2002 lalu saat ini terjadi juga di Bondowoso. “Dulu akibat curah hujan yang tinggi dan maraknya pembalakan liar, mengakibatkan air hujan tidak dapat terserap dengan baik, dan mengakibatkan banjir bandang di Situbondo”, kata tokoh politik tersebut.

Jika bencana banjir “kiriman” di Situbondo mengakibatkan puluhan korban jiwa dan melumpuhkan fasilitas umum, yang terjadi di Bondowoso jauh lebih parah lagi, karena merugikan masyarakat secara umum di segala lini kehidupan masyarakat, padahal Situbondo hanya “kirim” satu orang ke Bondowoso, kelakar politikus dalam bincang santai.

Penulis, saat itu bingung dengan bencana “kiriman” balik dari Situbondo yang dimaksud oleh tokoh politik tersebut.

Dan tokoh politik tersebut melanjutkan perbincangannya, Bondowoso sekarang ganti mendapat “kiriman” dari Situbondo, tidak mengirimkan banjir bandang, tetapi efeknya jauh lebih dasyat dari banjir bandang.

“Situbondo hanya “kirimkan” satu orang saja, tetapi mampu membuat kegaduhan yang luar biasa. ASN ketakutan dalam bekerja, memaki Kepala Dinas di depan anak buahnya, terjadi bagi-bagi proyek kepada pihak yang tidak memiliki kompetensi, terjadi pelanggaran peraturan perundangan pada mutasi ASN, pelecehan Kepala Desa dan banyak kegaduhan lain akibat dari “kiriman” satu orang dari Situbondo”, jelas sang tokoh sambil bergurau menganalogikan kegaduhan yang terjadi di Bondowoso akibat satu orang”kiriman”. (*)

Opini politik oleh Redaksi.

Cak War

Asosiasi Media Online Indonesia

Asosiasi Media Online Indonesia

Mitra Ijen Post

Logo Ijen Post

INFO HARGA SEMBAKO JAWA TIMUR

http://picasion.com/