Friday, December 20, 2019

Opini : Duo Pejabat GILA Perusak Nama dan Integritas Kepala Daerah

Opini –  Tak pernah merasa salah, merasa malu atau berani berjiwa kasatria bagai seorang samurai mengakui kesalahan dan mundur dari jabatannya. Bahkan sikap Duo Pejabat Gila ini lebih pada sok pintar, sok kuasa, sok tahu, sok alim dan sok bersih.

Sabar adalah sebutan seorang Kepala Daerah di sebuah wilayah. Banyak masyarakat mengakui sebutan tersebut karena dikenal kejujuran dan kesederhanaannya. Berbagai harapan masyarakat dan keberanian tertumpu pada Kepala Daerah dalam menetapkan kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun sayangnya, baru tahun pertama kepemimpinannya, sudah terjadi gonjang-ganjing terutama saat proses pengangkatan Sekretaris Penguasa (Sekpeng) dan Pelaksana Tugas Kepala Kepegawaian yang bertindak sebagai mbahnya hukum dalam proses mutasi. Akibat ulah Duo Pejabat Gila yang berperan dalam menetapkan kebijakan di mutasi ini, menjerumuskan Kepala Daerah terjebak dalam Hak Interpelasi Wakil Rakyat.

Bidang mutasi dinilai Duo Pejabat Gila sebagai lahan empuk mendulang rupiah dan tidak memiliki resiko tinggi jika dibanding dengan bermain proyek. Akibat ulah dua pejabat ini, keresahan Pegawai Daerah mulai banyak mengeluh, tapi mau bilang apa?, Karena konon dua pejabat ini sangat disayang Pak Kepala Daerah. Pasalnya walau tingkah dua pejabat ini merusak nama dan Integritas Kepala Daerah, tapi tetap saja Duo Pejabat Gila ini duduk dalam kursi empuknya.

Pada periode Wakil rakyat sebelumnya, ulah Sekpeng mengakibatkan uang rakyat dihamburkan demi meloloskan Perubahan anggaran dan untuk membuktikan di mata Kepala Daerah bahwa dirinya mampu menguasai anggaran dan mengkondisikan wakil rakyat. Hanya demi membuktikan diri, Sekpeng rela hamburkan uang rakyat dalam bentuk bagi-bagi proyek ke anggota Badan Anggaran sampai dengan milyaran rupiah.

Pegawai Daerah dan banyak kalangan lain mendo’akan Sekpeng dan Plt. Kepala Kepegawaian lengser atau mengundurkan diri dari jabatannya. Namun sayang, lagi-lagi sayang, karena muncul dukungan kuat dari orang dekat Kepala Daerah, Duo Pejabat Gila ini tak akan lengser, karena duet maut Pejabat Gila ini dapat memenuhi kepentingan orang sekitar Kepala Daerah. Artinya duo pejabat ini tidak ada tobat-tobatnya merusak nama dan integritas Kepala Daerah yang memberikan kepercayaan kepadanya.

Bentuk perusakan nama dan integritas Kepala Daerah oleh Sekpeng dan Plt. Kepala Kepegawaian, antara lain : Sikap Sekpeng di berbagai kesempatan mengaku dirinya sebagai KPK dan BPK yang pernah menangkap kerabat dekat presiden seorang diri, melakukan intimidasi mutasi kepada pejabat, statemen “Miskin tapi Sombong”, kerja GILA, akan memenjarakan pejabat dan Wakil Rakyat, menganggap Wakil Rakyat LUDRUK POLITIK, menganggap Wakil Rakyat tak lebih dari anak lulusan TK dan bicara omong kosong lainnya.

Selain kontroversi pernyataan Sekpeng, Plt. Kepala Kepegawian, juga tak kalah GILAnya : dimulai dengan pernyataan Desa bukan bagian pemerintah, Tim Penilai Kinerja tidak perlu rapat dalam proses mutasi, memaraf SK yang bukan kewenangannya, mengaku Mbahnya Hukum. Ini pernyataan GILA atau memang GILA beneran... Sekelas Mukidi pun lewat.... hehe

Sekpeng dan Plt. Kepala Kepegawaian juga sudah mempersiapkan seorang wanita yang terkenal “pemberani” menabrak aturan dan selalu lolos dari jerat hukum, sebagai Bos Bagian Hukum. Kemahirannya dalam menabrak hukum sudah terbukti saat menjabat di Komisi Pemilihan Daerah. Jika ini berhasil, maka lengkaplah para Pakar Hukum “akal-akalan” berkolaborasi untuk mengacaukan sistem pemerintahan.

Setelah kesuksesan Sekpeng dan Plt. Kepala Kepegawaian dalam melakukan Mutasi akhir-akhir ini, yang menjadi gonjang-ganjing yaitu keberhasilan Sekpeng dan Plt. Kepala Kepegawaian, membentuk BAPERJAHAT yang bergantayangan mencari para Pegawai pengGILA jabatan, untuk ditawarkan posisi tertentu. Gila Kan? Karena merasa sebagai Mbahnya Hukum, sehingga Hukum dapat diterjemahkan sesuai kebutuhannya, prosedur hanya bisa dipakai kalau darurat saja, misal golongan II akan diangkat menjadi Kadis. Gila betul.....

Saat ini yang paling penting adalah bagaimana menyumbangkan pikiran untuk menjaga nama baik dan Integritas Kepala Daerah yang dikenal dengan gelar Sabar, karena ada yang katakan, jika ada pihak yang mengganggu Kepala Daerah, akan mengerahkan People Powder... eh salah... People Power untuk melindungi Kepala Daerah. Duo Pejabat Gila pun ikut memanfaatkan nama baik Kepala Daerah untuk kepentingan pribadi dan golongannya, mendobrak sampai melanggar aturan, yang membuat Kepala Daerah pilihan rakyat semakin rusak nama dan integritasnya.

Pak Kepala Daerah... Rakyat memilihmu... Bangunlah dari tidurmu.

Kisah fiktif yang dapat dipetik hikmahnya.
Oleh Redaksi Ijen Post.

Cak War

Asosiasi Media Online Indonesia

Asosiasi Media Online Indonesia

Mitra Ijen Post

Logo Ijen Post

INFO HARGA SEMBAKO JAWA TIMUR

http://picasion.com/